Sayuti Melik

KETIKS.COM – Tidak terasa, mulai besok Negara Kesatuan Republik Indonesia akan merayakan hari ulang tahun kemerdekaannya yang ke-76. Sudah menjadi kodratnya, seluruh warga negara Indonesia merayakan hari tersebut dengan meriah. Selain itu, setiap kota dan beberapa instansi selalu mengadakan kegiatan upacara pengibaran bendera untuk mengingat para pahlawan yang telah gugur dalam membela kedaulatan NKRI. Dipertengahan kegiatan upacara, sang Pembina upacara pasti membacakan teks Proklamasi. Berbeda dengan upacara bendera di kota lainnya, upacara pengibaran bendera di Istana Merdeka pastinya menggunakan naskah proklamasi asli ketikan Sayuti Melik yang dibacakan Presiden RI. (mrg)

Seperti yang sudah kalian tahu, naskah Proklamasi yang sudah disusun dan dibacakan oleh Ir. Soekarno telah diketik ulang oleh salah satu pahlawan dari golongan muda yang bernama Sayuti Melik. Selain itu, beliau juga telah banyak berperan untuk memperjuangkan kemerdekaan RI. Ingin tahu apa saja itu? Berikut adalah biografi pengetik teks Proklamasi, Sayuti Melik.

 

Biografi Sayuti Melik

 

Muhammad Ibnu Sayuti atau dikenal dengan nama Sayuti Melik lahir di Sleman, Yogyakarta pada tanggal 22 November 1908. Beliau merupakan anak dari Kepala Desa Sleman, Yogyakarta yaitu Abdul Mu’in alias Partoprawito. Sedangkan ibunya yang bernama Sumilah.

Sayuti Melik menagawali pendidikannya di sekolah Ongko Loro (Sekolah Dasar) di desa Srowolan hingga kelas IV, lalu melanjutkan pendidikannya hingga mendapat ijazah di Yogyakarta. Ketika belajar di sekolah guru di Solo, 1920, ia belajar nasionalisme dari guru sejarahnya yang berkebangsaan Belanda, H.A. Zurink. Pada usia belasan tahun itu, ia sudah tertarik membaca majalah Islam Bergerak pimpinan K.H. Misbach di Kauman, Solo, ulama yang berhaluan kiri. Ketika itu banyak orang, termasuk tokoh Islam, memandang Marxisme sebagai ideologi perjuangan untuk menentang penjajahan. Dari Kiai Misbach ia belajar Marxisme. Perkenalannya yang pertama dengan Bung Karno terjadi di Bandung pada 1926.

Semasa hidupnya, Sayuti Melik sempat dibuang dan diasingkan oleh Belanda ke beberapa tempat. Hal ini dikarenakan ia telah banyak merilis tulisan-tulisan seputar politik. Salah satu alasannya karena ia dituduh telah mendukung PKI oleh Belanda.

 

Menikah dengan Trimurti

 

Sayuti Melik

 

Sepulang dari pembuangannya, Sayuti menjumpai Soerastri Karma Trimurti. Kemudian mereka menikah pada tanggal 19 Juli 1938.

Pada tahun itu juga Mereka mendirikan koran Pesat di Semarang yang terbit tiga kali seminggu dengan tiras 2 ribu eksemplar. Karena penghasilannya masih kecil, pasangan suami-istri itu terpaksa melakukan berbagai pekerjaan, dari redaksi hingga urusan percetakan, dari distribusi dan penjualan hingga langganan.

Trimurti dan Sayuti Melik bergiliran masuk keluar penjara akibat tulisan mereka mengkritik tajam pemerintah Hindia Belanda. Sayuti sebagai bekas tahanan politik yang dibuang ke Boven Digul selalu dimata-matai dinas intel Belanda (PID).

Pada zaman pendudukan Jepang, Maret 1942 koran Pesat diberedel Japan, Trimurti ditangkap Kempetai, Jepang juga mencurigai Sayuti sebagai orang komunis.

Pada 9 Maret 1943, diresmikan berdirinya Putera (Pusat Tenaga Rakyat) dipimpin “Empat Sekawan” Soekarno, Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, dan K.H Mas Mansoer. Saat itu Soekarno meminta pemerintah Jepang membebaskan Trimurti, lalu membawanya ke Jakarta untuk bekerja di Putera, dan kemudian di Djawa Hookoo Kai, Himpunan Kebaktian Rakyat Seluruh Jawa. Dan lalu Trimurti dan Sayuti Melik dapat hidup relatif tenteram. Sayuti terus berada di sisi Bung Karno.

 

Berperan dalam Peristiwa Rengasdengklok

 

Sayuti Melik juga merupakan salah satu dalang dibalik terjadinya peristiwa penculikan Ir. Soekarno dan Moh. Hatta di Rengasdengklok. Seperti yang sudah kita ketahui, peristiwa ini bertujuan untuk menghalang Ir. Soekarno dan Moh. Hatta dari pengaruh Jepang, serta menyegarakan kemerdekaan RI.

 

Baca juga : Yuk Kenalan Dengan Quarter Life Crisis

 

Masa Setelah Kemerdekaan

 

Setelah Indonesia Merdeka, Sayuti direkrut menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat atau yang dikenal dengan singkatan KNIP. Pada tahun 1946, ia telah ditangkap karena dianggap dekat dengan Persatuan Perjuangan dan dituduh berperan Peristiwa 3 Juli 1946. Walaupun saat setelah diperiksa oleh Mahkamah Tentara, ia dinyatakan tidak bersalah.

Saat terjadinya peristiwa Agresi Militer Belanda II, Sayuti ditangkap dan dipenjarakan di Ambarawa oleh pihak Belanda. Lalu ia telah dibebaskan dari penjara setelah selesainya Komisi Meja Bundar. Pada tahun 1950 ia diangkat menjadi anggota MPRS dan DPR-GR sebagai Wakil dari Angkatan ’45 dan menjadi Wakil Cendekiawan.

Sayuti dikenal juga sebagai pendukung Ir Soekarno. Namun pada saat masa kekuasaan Ir. Soekarno. Hal ini dikarenakan ia menentang keras kebijakan baru dari Ir. Soekarno yang bernama NASAKOM (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) menjadi NASASOS (Sosialisme) Ia juga menentang keras kebijakan MPRS yang menyebutkan bahwa Ir. Soekarno diangkat sebagai Presiden seumur hidup.

Pada masa Orde Baru, Sayuti telah menjadi anggota DPR/MPR, yang mewakili partai Golkar di Pemilu 1971 dan 1977.

 

Sumber : Wikipedia 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *